Minggu, 03 Mei 2015

Landasan Pendidikan Islam


Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala nikmatnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Terimakasih kepada dosen pembimbing kami Drs.H.Endang yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu mata kuliah Landasan Pendidikan Islam. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami berikutnya.



Cirebon, September 2014
Penulis







Daftar Isi

Kata Pengantar.............................................................................................................                1
Bab I Pendahuluan
A.      Latar Belakang................................................................................................. 3
B.      Rumusan Masalah...........................................................................................  4
C.      Tujuan..............................................................................................................               4
Bab II Pembahasan
A.      Definisi Landasan Pendidikan Islam.................................................................   5
B.      Ruang Lingkup, Dasar dan Tujuan Landasan Pendidikan Islam........................      10
C.      Pendidikan Islam berdasarkan Pendekatan Ilmiah...........................................   17
D.      Pendidikan Islam berdasarkan Pendekatan Sistem...........................................  18
Kesimpulan.....................................................................................................................            21
Daftar Pustaka................................................................................................................             22







BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan aspek kehidupan manusia. Dengan kata lain pendidikan tidak hanya berlangsung didalam kelas atau sekolah saja melainkan juga dilingkungan keluarga dan lingkungan sekitar yang akan mempengaruhi karakter masa depan.
Oleh karena itu pendidikan umum saja tidak cukup untuk mengembangkan akhlak dan kepribadian seseorang dengan baik, sebagai penunjangnya pendidikan Islam sangat diperlukan agar seimbang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi pada era sekarang.
Sumber atau dasar pendidikan Islam merupakan landasan pokok agar pendidikan Islam tegak berdiri tidak mudah roboh karena pengaruh-pengaruh ideologi yang muncul baik sekarang maupun yang akan datang. Seperti halnya bangunan, dasar itu sendiri sebagai fondamen yang tegak dan kokoh.
Agama Islam adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan, dengan sumbernya yaitu Al-Qur’an , Hadist, dan Ijtihad. Sumber-simber inni dalam pribadi manusia bertujuan untuk kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak. Serta menguatkan iman dan takwa manusia.
B.      Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Landasan Pendidikan Islam?
2.      Apa sajakah dasar dan tujuan pendidikan Islam?
3.      Apa sajakah ruang lingkup pendidikan Islam?
4.      Bagaimana hubungan pendidikan Islamberdasarkan pendekatan ilmiah?
5.      Bagaimana hubungan pendidikan Islam berdasarkan pendekatan sistem?


C.    Tujuan Pembahasan
1.      Mengetahui definisi tentang Landasan Pendidikan Islam
2.      Mengetahui dasar dan tujuan pendidikan Islam
3.      Mengetahui ruang lingkup pendidikan Islam
4.      Mengetahui hubungan pendidikan Islam berdasarkan pendekatan sistem dan ilmiah
















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Landasan Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam bahasa Inggris adalah education, berasal dari kata to educate yang berarti mengasuh atau mendidik. Makna education adalah kumpulan semua proses yang memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan tingkah laku yang bernilai positif di masyarakat. Sedangkan dalam Islam, proses pendidikan merupakan perjalanan yang tak pernah henti sepanjang hidup manusia dan merupakan hal yang sangat signifikan dalam kehidupan manusia, Pendidikan merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata “pendidikan” dan “agama”. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, Pendidikan berasal dari kata didik yang berarti “proses pengubahan sikap dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan [1] . Sedangkan kata mendidik itu sendiri adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran) mengenai akhlak dan kecerdasan fikiran. Dari pendapat diatas pendidikan ialah “Bimbingan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak dalam pertumbuhannya baik jasmani maupuun rohani agar berguna bagi diri sendiri dan masyarakatnya)”. Sementara itu, pengertian Agama dalam kamus besar Bahasa Indonesia yaitu : “kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu).Tentunya dalam perjalanan itu kita membutuhkan suatu landasan dalam pendidikan Islam. Landasan Pendidikan Islam ialah dasar untuk membentuk pribadi seseorang agar bertakwa kepada Allah SWT, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, menghormati dan menyayangi orang tua dan sesamanya serta mencintai tanah air sebagai karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT. Pengertian pendidikan Agama Islam sebagaimana yang diungkapkan Sahilun A. Nasir, yaitu “Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha yang sistematis dalam membimbing anak didik yang beragama Islam dengan cara sedemikian rupa, sehingga ajaran Ajaran Islam itu benar-benar dipahami, diyakini kebenarannya, dan diamalkan menjadi pedoman.
            Pendidikan Islam yang dikembangkan di Indonesia sendiri berpatok pada beberapa landasan,yaitu :
·         Landasan Filosofis
Landasan filosofis pendidikan Islam adalah asumsi filsafat yang menjadi titik tolak dalam pendidikan Islam. Landasan filosofis berkenaan dengan tujuan filosofis praktik pendidikan sebagai sebuah ilmu. Oleh karena itu, kajian yang dapat dilakukan untuk memahami landasan filosofis pendidikan adalah menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang meliputi tiga bidang kajian yaitu ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Landasan filosofis pendidikan Islam memberikan rambi-rambu yang seharusnya dilaksanakan dalam pendidikan Islam. Filosofis pendidikan Islam merupakan kerangka landasan yang sangat fundamental bagi sistem pendidikan dan para pendidik. Ilmu pendidikan Islam hakikatnya bersumber dari filosofi tentang Tuhan dan hal tersebut dapat melatih perasaan para siswa dengan berbagai cara sehingga dalam sikap hidup, tindakan, keputusan dan pendekatan terhadap seala jenis pendidikan, mereka dipengaruhi oleh nilai spiritural dan sadar akan nilai etisreligiusitasnya. Menurut  Abdurrahman an-Nahlawi, “Pendidikan mengantarkan manusia pada perilaku dan perbuatan manusia yang berpedoman pada tuntunan Allah”.
·         Landasan Yuridis
Landasan yuridis adalahseperangkat konsep peraturan perundang-undangan yang menjadi titik tolak  system pendidikan. Pendidikan harus dilandasi dengan dasar yuridis untuk sanksi. Dalam UUD ’45 pasal 31 ayat 5 dijelaskan bahwa “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Ada beberapa jenis landasan yuridis, yaitu, landasan yuridis pelaksanaan pendidikan global, landasan yuridis pelaksanaan pendidikan nasional, landasan yuridis pelaksanaan pendidikan daerah dan landasan yuridis pelaksanaan pendidikan lokal.
·         Landasan Sosiologis-Budaya
Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari dalam sosiologi pendidikan meliputi empat bidang:
1.      Hubungan sistem pendidikan dengan aspek yang masyarakat lain
2.      Hubungan kemanusiaan disekolah
3.      Pengaruh sekolah pada prilaku anggotanya
4.      Sekolah dalam komunitas
Kajian sosiologi tentang pendidikan pada prinsipnya mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan sekolah maupun pendidikan di luar sekolah.
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai  hubungan timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan atau dikembangkan dengan dalam meariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik formal maupun informal. Bentuk dan ciri-ciri dan pelaksanaan pendidikan itu ikut ditentukan oleh kebudayaan masyarakat tempat proses pendidikan itu berlangsung.
·         Landasan Psikologis
Pendidikan selalu melibatkan aspek kejiwaan manusia, sehingga landaasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting dalam pendidikan. Pada umunya, landasan psikologis pendidikan tertuju pada pemahaman manusia, khususnya proses perkembangan dan proses belajar.

·         Landasan Ilmiah
Ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai ikatan yang sangat erat. Setiap perkembangan iptek harus segera diakomodasi oleh pendidikan, yaitu dengan segera memasukan perkembangan iptek itu ke dalam isi bahan ajaran. Kemampuan dan sikap ilmiah sedini mungkin harus dikembangkan dalam diri peserta didik. Pembentukan keterampilan dan sikap ilmiah sedini mungkin tersebut secara serentak akan meletakan dasar terbentuknya masyarakat yang sadar akan iptek dan calon-calon pakar iptek di kemudian hari.

·         Landasan Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan pada tingkat nasional mencakup usaha pendidikan untuk mencerdaskan atau membangun bangsa, termasuk seluruh jenjang, jenis dan isinya. Secara lebih luas perencanaan pendidikan meliputi hal-hal berikut:
1.      Perencanaan pendidikan adaptif
2.      Perencanaan pendidikan kontingensi
3.      Perencanaan pendidikan kompulsif
4.      Perencanaan pendidikan manipulatif
5.      Perencanaan pendidikan indikatif
6.      Perencanaan pendidikan bertahap (incremental)
7.      Perencanaan pendidikan otonomi
8.      Perencanaan pendidikan amelioratif
9.      Perencanaan pendidikan normatif
10.  Perencanaan pendidikan fungsional
11.  Pemrograman pendidikan

·         Landasan Kurikulum Pendidikan
Kurikulum secara garis besarnya dapat diartikan dengan seperangkat matteri pendidikan dan pengarjaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Dalam dunia pendidikan, istilah kurikulum telah dikenal sejak kurang lebih satu abad yang lampau dalam kamus Webster pada tahun 1856. Kemudian, istilah kurikulum berkembang dan dirumuskan dalam berbagai arti. Kurikulum meliputi seperangkat kegiatan pembelajaran, filosofi tujuan seluruh mata pelajaran, serta pengalaman yang digali dari aktifitas di dalam kelas, aktifitas di luar kelas maupun aktifitas dalam kehidupan masyarakat. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam melaksanakan proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktifitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Kurikulum memberikan pegangan bagi pelaksanaan pengajaran di kelas, tetapi merupakan tugas dan tanggung jawab guru dalam menjabarkannya.
Definisi kurikulum modern ada dua, yaitu :
1. kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya berkembang secara menyeluruh dalam segala segi dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan
2. kurikulum adalah sejumlah kekuatan, faktor-faktor pada lingkuungan pengajaran dan pendidikan yang disediakan oleh sekolah bagi-bagi murid-muridnya di ddalam dan di luar sekolah, dan sejumlah pengalaman yang lahir daripada  interaksi dengan kekuatan-kekuatan dan faktor-faktor itu[2].
Adapun empat aspek utama yang menjadi cirinya adalah sebagai berikut :
1. tujuan pendidikan yang akan dicapai kurikulum itu
2.pengetahuan (knowladge), ilmu-ilmu, data, aktivitas-aktivitas dan pengalaman-pengalaman yang menjadi sumber terbentuknya kurikulum itu.
3. metode-metode dan cara-cara mengajar dan bimbingan yang diikuti oleh murid-murid untuk mendorong mereka kearah yang dikehendaki oleh tujuan yang dirancang
4. metode dan cara penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum.

Tujuan pendidikan yang dicapai oleh kurikulum dalam pendidikan Islam, adalah sama dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri yaitu membentuk akhlak yang mulia, dalam kaitannya dengan hakikat penciptaan manusia.

·         Landasan Supervisi Pendidikan
Supervisi adalah usaha petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas pendidikan lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk mengembangkan pertumbuhan guru-guru, menyelesaikan dan merevisi tujuan pendidikan, bahan-bahan dan metode mengajar serta penilaian pengajaran.

·         Landasan Strategi Pembelajaran
Strategi adalah susunan, pendekatan atau kaidahkaidah untuk mencapai tujuan dengan menggunakan tenaga, waktu dan kemudahan secara optimal. Strategi pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan yang akan dicapai. Strategi pembelajaran terdiri atas metode atau teknik pengajaran.[3]

B. Ruang Lingkup, Dasar dan Tujuan Landasan Pendidikan Islam
a)      Ruang Lingkup Pendidikan Islam
            Pendidikan Islam sebagai ilmu, yang mempunyai ruang lingkup sangat luas disebabkan karena didalamnya banyak mengandung aspek yang ikut terlibat, baik langsung ataupun secara yang tidak langsung. Menurut pendapat Muzayyin Arifin ruang filsafat lingkup pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan. Bagaimanakah semua masalah tersebut disusun, tentu saja harus ada pemikiranyang melatarbelakangi. Pemikiran yang melatarbelakanginya disebut filsafat pendidikan Islam. Karena itu dalam konsep pendidikan Islam kita harus mampu mengkaji atau memahami konsep tujuan pendidikan, konsep guru yang baik, konsep kurikulum dan seterusnya[4].
             Adapun beberapa ruang lingkup pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
1.  Pendidik dan Perbuatan Mendidik
            Yang dimaksud perbuatan mendidik ialah seluruh kegiatan, tindakan, dan sikap pendidik sewaktu menghadapi anak didiknya. Para pendidik adalah guru dan siapa saja dapat memfungsikan dirinya untuk mendidik baik secara formal ataupun non formal. Para pendidik adalah subjek yang melaksanakan pendidikan Islam. Pendidik mempunyai peran penting untuk berlangsungnya pendidikan. Baik atau tidaknya pendidik berpengaruh besar terhadap hasil pendidikan Islam. Pendidik disebut juga dengan mu’allim, mithazib, ustadz, kyai dsb.[5]
Nabi Muhammad Saw sebagai pendidik pertama , pada masa awal pertumbuhan Islam telah menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan Islam disamping Sunnah beliau sendiri[6].
Perbuatan mendidik adalah seluruh kegiatan, tindakan, atau perbuatan dan sikap yang dilakukan oleh pendidik saat mengasuh anak didik. Dengan istilah lain, yaitu sikap atau tindakan menuntun, membimbing atau memberikan ertolongan dari seorang pendidik kepada anak didik dalam mencapai tujuan pendidikan. Perbuatan mendidik disebut dengan nama tahzib.
Pendidik dalam Islam harus memiliki 3 kompetensi dasar, yaitu:
-        Kompetensi personal religius:
-        Kompetensi sosial religius
-        Kompetensi profesional religius
Pendidik juga merupakan profil manusia yang seiap hari didengar perkataannya, dilihat dan ditiru perilakunya oleh murid-muridnya. Oleh karena itu, pendidik harus memiliki syarat seperti:
-        Beriman kepada Allah dan beramal shaleh
-        Menjalankan ibadah dengan taat
-        Memiliki sikap pengabdian yang tinggi kepada dunia pendidikan
-        Ikhlas dalam menjalankan tugas pendidikan
-        Menguasai ilmu yang diajarkan
-        Profesional dalam menjalankan tugasnya
-        Tegas dan beribawa dalam menghadapi masalah yang dialami murid-muridnya.

2. Anak Didik
            Anak didik merupakan  unsur terpenting dan objek para pendidik dalam melakukan hal yang bersifat mendidik. Hal ini disebabkan karena semua upaya yang dilakukan ialah demi menggiring anak didik ke arah yang lebih sempurna. Anak didik atau siswa dalam pendidikan adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikis. Anak atau subjek didik adalah orang yang belum dewasa dan sedang dalam masa perkembangan menuju kedewasaan. Kedudukan peserta didik dapat dilihat dari perspektif berikut:
a)      Perspektif psikologis
Menurut pandangan ini, manusia didik adalah makhluk yang sedang dalam proses perkembangan dan tumbuh menurut potensi masing-masing. Agar berkembang secara optimal, manusia membutuhkan arahan dan bimbingan. Secara psikologis, peserta didik yang berada dalam masa perkembangan harus mengalami perubahan secara kualitatif dan kuantitatif. Contoh perubahan kualitatif seperti bertambah matang, dewasa, dsb. Contoh perubahan kuantitatif seperti ia mengalami tumbuh dimulai dari tinggi badan, berat badan, dan segala yang berhubungan dengan fisik.www.landasanpendidikanislam-bdl.blogspot.com
b)      Perspektif pedagogis
Manusia dengan segala potensinya dpat dididik kearah yang diciptakan dan setaraf dengan kemampuan yang dimilikinya. Untuk bisa hidup dalam lingkungannya, setiap anak memerlukan bantuan dan penyesuaian diri yang awalnya diajarkan dengan bantuan orang tua (keluarga).
c)      Perspektif religius
Menurut pandangan ini, peserta didik adalah manusia yang tergolong sebagai makhluk berketuhanan yang mempnyai potensi untuk mengembangkan dirinya menjadi manusia yang bertakwa, taat dan tunduk kepada Allah SWT.
d)      Perspektif historis
Menurut pandangan ini, peserta didik diartikan sebagai makhluk belajar yang memiliki kemampuan menangkap makna peristiwa sejarah sebagai fenomena kebudayaan manusia sepanjang zaman.[7]

3. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Fungsi dasar ialah memberikan arah kepada tujuan yang akan dicapai dan sekaligus sebagai landasan untuk berdirinya sesuatu[8]. Dasar ideal pendidikan islam adalah identik dengan ajaran Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk:
1.      Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril sebagai pedoman hidup manusia bagi yang membacanya merupakan suatu ibadah dan mendapat pahala [9].
Sebagian ulama menyebutkan bahwa penamaan kitab ini dengan nama Al-Qur’an di antara kitab-kitab Allah itu karena kitab ini mencakup inti dari kitab-kitab Nya.[10] Hal ini diisyaratkan dalam firman-Nya QS.An-Nahl ayat 89:
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِين
“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi (rasul) atas (perbuatan) mereka, dari (kalangan) mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat, bagi orang-orang yang berserah diri."
Nabi Muhammad Saw sebagai pendidik pertama , pada masa awal pertumbuhan Islam telah menjadikan Al-Qur’an sebagai dasar pendidikan Islam disamping Sunnah beliau sendiri[11].
Kedudukan Islam sebagai sumber pokok pendidikan Islam dapat dipahami dari ayat Al-Qur’an itu sendiri dalam firman Allah :
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka perselisihan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS An-Nahl:64)
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang telah diwahyukan  kepada Nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur’an merupakan petunjuk yang lengkap dan juga merupakan pedoman bagi kehidupan manusia yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang bersifat universal. Al-Qur’an merupakan sumber pendidikan yang lengkap berupa pendidikan sosial,akidah,akhlak,ibadah, dan muamalah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Azyumardi Azrah bahwa Al-Qur’an mempunyai kedudukan yang paling depan dalam pengambilan sumber-sumber pendidikan lainya. Segala kegiatan dan proses pendidikan harus berorientasi kepada prinsip nilai-nilai Al-Qur’an[12]
2.  Sunnah (Hadis)
            Dasar yang kedua selain Al-Qur’an adalah Sunnah Rasulullah . Amalan yang dikerjakan oleh Rasulullah Saw dalam proses perubahan hidup sehari-hari menjadi faktor utama pendidikan Islam karena Allah Swt menjadikan Muhammad sebagai nteladan bagi umatnya
            Firman Allah Swt:
Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik. (QS Al-Ahzab:21)
            Sunnah ialah perkataan perbuatan ataupun pengakuan Rasulullah dimaksud dengan pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan yang diketahui Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua setelah Al-Qur’an. Sunnah juga berisi aqidan dan syari’an serta petunjuk untuk kemasalahatan menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertaqwa untuk itu Rasulullah menjadi guru dan pendidik utama bagi seluruh umat.

4. Materi Pendidikan
Materi pendidikan Islam yaitu bahan atau pengalaman-pengalaman belajar yang disusun sedemikian rupa untuk disajikan kepada anak didik. Dalam pendidikan Islam materi pendidikan Islam sering disebut dengan Maddatul Tarbiyah.
5. Metode Pendidikan
Metode yaitu cara yang dilakukan oleh pendidik dalam penyampaian materinya. Metode tersebut mencakup cara pengelolaan, penyajian materi pendidikan agar materi tersebut dengan mudah diterima oleh anak didik.
6. Alat Pendidikan
Alat-alat dan media pendidikan merupakan fasilitas yang digunakan untuk mendukung terlaksananya pendidikan.
7. Evaluasi Pendidikan
Evaluasi pendidikan adalah cara-cara mengadakan evaluasi (penilaian) terhadap hasil belajar anak didik. Evaluasi ini diadakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar selama proses pembelajaran.
8. Lingkungan Pendidikan
Yang dimaksud dengan lingkungan pendidikan Islam disini ialah keadaan-keadaan yang ikut berpengaruh dalam pelaksaan serta hasil pendidikan Islam. Lingkungan pendidikan sangat besar  pengaruhnya dalam membentuk kepribadian anak didik, olehnya itu hendaklah diupayakan agar lingkungan belajar senantiasa tercipta sehingga mendorong anak didik untuk lebih giat belajar.[13]
b)     Dasar Pendidikan Islam
Dasar pendidikan Islam identik dengan dasar ajaran Islam itu sendiri. Keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Kemudian dasar tadi dikembangkan dalam pemahaman para ulama dalam bentuk qiyas syar’i , ijma’ yang diakui, ijtihad dan tafsir yang benar  dalam bentuk hasil pemikiran yang menyeluruh dan terpadu tentang jagat raya, manusia, masyarakat dan bangsa, pengetahuan kemanusiaan dan  akhlak, dengan merujuk kepada kedua sumber asal (Al-Qur’an dan Hadits) sebagai sumber  utama[14]
Menjadikan al Qur’an dan Hadits sebagai dasar pemikiran dalam membina sistem pendidikan, bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan kepada keyakinan semata. Dengan demikian wajar jika kebenaran itu kita kembalikan pada pembuktian akan kebenaran pernyataan Firman Allah:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab (al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang taqwa (QS Al-Baqarah:2).

c)      Tujuan pendidikan Islam
Sejalan dengan tujuan misi Islam itu sendiri, tujuan pendidikan Islam yaitu mempertinggi nilai-nilai akhlak, hingga mencapai tingkat akhlak al-karimah[15]. Dan tujuan tersebut itu sama dan sebangun dengan target yang terkandung dalam tugas kenabian yang diemban oleh Rasulallah SAW. Terungkap dalam ungkapan pernyataan Beliau : “sesungguhnya aku diutus adalah untuk membimbing manusia mencapai akhlak yang mulia” (al-hadits). Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam dinilai sebagai faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan, yang menurut pandangan Islam berfungsi menyiapkan manusia-manusia yang mampu menata kehidupan yang sejahtera di dunia dan kehidupan akhirat. Dua sasaran pokok yang akan dicapai oleh pendidikan Islam tadi, memuat sisi penting. Bagian ini dipandang sebagai nilai lebih dari pendidikan Islam, nilai lebih tersebut tersebut bahwa sistem pendidikan Islam dirancang agar dapat merangkum tujuan hidup manusia, yang pada hakikatnya tunduk pada hakikat penciptaannya. Ada beberapa tujuan pendidikan Islam yaitu pertama , tujuan pendidikan Islam itu bersifat fitrah yaitu membimbing perkembangan manusia sejalan dengan fitrah kejadiannya. Kedua, tujuan pendidikan Islam merentang dua dimensi yaitu tujuan akhir bagi keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Ketiga, tujuan pendidikan Islam mengandung nilai-nilai yang bersifat universal yang tak terbatas oleh ruang lingkup geografis dan paham-paham (isme) tertentu.
Tujuan pendidikan Islam terangkum dalam upaya mengaplikasi yang ada dalam cita-cita setiap muslim, Seperti dalam firman Allah:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Allah Tuhan kami, berikanlah kami kesejahteraan hidup di dunia dan kesejahteraan hidup di akhirat”. (Qs. Al-Baqarah:201).

C. Pendidikan Islam berdasarkan pendekatan ilmiah
            Pendekatan ilmiah adalah pendekatan disipliner dan pendekatan fungsioner terhadap masalah-masalah Islam[16]. terhadap masalah aktual, yang pada hakikatnya  merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir rasional, empiris dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam Islam. Beredasarkan sejarah perkembangan ilmu didapatkan tiga karateritik ilmiah dalam pndekatan ilmiah,yaitu :
1. reductionisme
Pendekatan yang meruduksi komplektisitas permasalahan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga dapatdengan mudah untuk diamati dan diteliti.
2. repeatabillity
Yaitu suatu pengetahuan yang disebut ilmu, bila pengetahuan tersebut dapat dicheck dengan mengulang eksperien atau penelitian yang dilakukan oleh oranglain ditempat waktu yang berbeda. Sifat ini akan menghasilkan suatu pengetahuan yang bebas dari subyektifitas, emosi dan kepentingan. Ini didasarkan kepada pemahaman bahwa ilmu pengetahuan milik umum, sehingga setiap orang yang berkepentingan harus dapat mengecheck kebenarannya dengan mengulang eksperimen atau penelitian yang dilakukan.
3.refutation
Sifat ini mensyaratkan bahwa suatu ilmu memuat informasi yang dapat ditolak kebenarannya oleh orang lain. Suatu pernyataan bahwa besok mungkin hujan ataupun tidak, memuat informasi yang tidak layak untuk disebut ilmu, karena tidak dapat ditolak. Ilmu adalah pengetahuan yang memiliki resiko untuk ditolak, sehingga ilmu adalah pengetahuan yang dapat berkembang.
Pendekatan pendidikan Islam berdasarkan pendekatan ilmiah juga dapat dijelaskan [17]pada QS. Ar-Raad:11:
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya.mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.
            Usaha untuk mengubah keadaan atau nasib, tidak mungkin bisa terlaksana kalau seseorang tidak dapat memahami permasalahan-permasalahan aktual yang akan dihadapinya. Pendidikan pada hakikatnya ialah usaha untuk mengubah dan mengarahkan keadaan atau nasib tersebut. Dan ini merupakan salah satu problema dalam pokok filsafat pendidikan Islam dimasa sekarang. Masalah pendidikan adalah masalah manusia yang menurut ajaran Islam adalah merupakan khalifah Allah yang memiliki potensi-potensi manusiawi, maka pendekatan filsafat pendidikan islam, haruslah pendekatan yang melibatkan seluruh aspek dan potensi manusia.[18]

D. Pendidikan Islam Berdasarkan Pendekatan Sistem
            Pendidikan dapat dilihat sebagai proses bimbingan, yang mempunyai dasar dan tujuan yang terencana dengan jelas. Keterkaitan antara dasar sebagai landasan, dan tujuan sebagai target yang akan dicapai, menjadikan proses bimbingan tersebut
terangkum sebagai rangkaian aktivitas yang terbentuk dalam suatu sistem.[19] Hal ini mengisyaratkan bahwa pendidikan sebagai sistem terangkai oleh berbagai komponen pendukung yang antara satu sama lain saling mendukung dan saling menentukan.
            Berangkat dari pemahaman ini, maka pendidikan islam sebagai sebuah sistem akan dilihat dari pendekatan tersebut. Dalam uraian berikut komponen yang akan dibahas, dibatasi pada dasar dan tujuan, pendidik, peserta didik, alat pendidikan dan Hal ini mengisyaratkan bahwa pendidikan sebagai sistem terangkai oleh berbagai komponen pendukung yang antara satu sama lain saling mendukung dan saling menentukan kurikulum. Dengan menggunakan filsafat pendidikan Islam sebagai acuan utamanya, maka pembahasan mengacukepada hakikat pendidik, peserta didik dan hakikat kurikulum dalam kaitan dengan dasar, tujuan, alat, batas lapangan pendidikan.
            Menurut pendekatan filsafat pendidikan Islam, semua komponen dimaksud terkait dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dengan demikian penempatan komponen dari sistem pendidikan Islam, akan dikaitkan dengan nilai-niai ajaran tersebut dengan menempatkan hakikat dari setiap komponen dimaksud sebagai dasar pembahasannya.
            Dalam sistem filsafat Islam, pernah pula berkembang pendekatan yang sifatnya komprehensif dan terpadu, antara sumber-sumber naqli, aqli dan imani. Sebagaimana yang nampak dikembangkan oleh Al-Ghazali. Menurut Al-Ghazali, kebenaran yang sebenarnya, yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran. Kebenaran yang mendatangkan keamanan bukan kebenaran yang keragu-raguan mencapai kebenaran yang benar-benar diyakini, harus melalui pengalaman  dan merasakan. Pendekatan ini, lebih mendekati pola berpikir yang empiris dan intuitif.[20] Pendidikan sistem dibagi menjadi beberapa konsep, yaitu:
a. Pendidikan dalam Konsep Tarbiyah
            Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa, konsep tarbiyahdirujuk dari firman Allah. Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil (QS. Al-Isra : 24)
b. Pendidikan dalam Konsep Ta’dib
            Pengertian pendidikan, selain termuat dalam tarbiyah juga digunakan konsep ta’dib. Konsep ini merujuk kepada sabda Rasul Allah SAW. “Aku dididik oleh Tuhanku, maka Ia memberikan kepadaku sebaik-baik pendidikan” (al-hadits). Naguib al-Attas, tampaknya lebih cenderung memilih sumber ini sebagai rujukan konsep pendidikan Islam.
c. Pendidikan dalam Konsep Ta’lim
            secara etimologi, ta’lim berkonotasi pembelajaran, yaitu semacam proses transfer ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini, ta’lim cenderung dipahami sebagai proses bimbingan yang difokuskan pada aspek peningkatan intelektualitas peserta didik. Kecenderungan ini pada batas-batas tertentu, telah menimbulkan keberatan pakar pendidikan untuk memasukan ta’lim ke dalam pendidikan. Menurut mereka, ta’lim hanya salah satu sisi dari pendidikan.









KESIMPULAN

Landasan Pendidikan Islam secara garis besar adalah dasar atau pijakan seorang muslim untuk mencapai tujuan pendidikan Islam agar mendapat keridhoan Allah dunia wal akhirat. Landasan Pendidikan Islam ini dibagi menjadi beberapa landasan-landasan pendukung, diantaranya adalah landasan filosofis Islam, landasan yuridis Islam, landasan psikologi Islam, landasan sosiologis-budaya Islam dan landasan lainnya. Indonesia sendiri menerapkan landasan pendidikan Islam untuk kemajuan pendidikan bangsa seperti yang sudah tercantum dalam UUD Negara pasal 31 ayat 5. Ruang lingkup landasan pendidikan Islam meliputi pendidik (subyek) dan perbuatan mendidik, anak didik (obyek), metode pendidikan, alat-alat pendidikan dan lingkungan pendidikan.berdasarkan pendekatannya, pendidikan dibagi menjadi dua yaitu, pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah dan pendidikan berdasarkan pendekatan sistem. Pendidikan Islam berdasarkan pendekatan ilmiah adalah pendekatan disipliner dan pendekatan fungsioner terhadap masalah-masalah Islam dan pendidikan Islam berdasarkan pendekatan sistem adalah pendidikan yang lebih mendekati pola berpikir yang empiris dan intuitif.












DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata, M.A., Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Lugos Wacana Ilmu,1997
Abudin Nata,M.A. Filsafat Pendidikan Islam.Pamulang:Lugos Wacana,1999
Al-Qattan, Manna Khalil. Alih Bahasa Muzdakir. Jakarta:PT Pustaka Antar Nusa,2000
Assegaf, Abd Rachman. Prof. Dr. Filsafat Pendidikan Islam,2011
Hasan, Basri. Landasan Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia ,2003
Husein, Machmud. Drs. Filsafat Pendidikan Islam. RajaGravindo Persada,1996
Ihsan, Hamdani. H , dkk. Filsafat Pendidikan Islam., Bandung: CV Pustaka Setia,2007
Jalaludin,dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta:RajaGravindo Persada,1996,
Langgulung, Hasan. Pendidikan Agama Islam,1996
Prof.H. Muzayyin Arifin, M.Ed. , Filsafat Pendidikan Islam.  Jakarta: Bumi Aksara,2003
Ramayulis. Pendidikan Agama Islam. Jakarta:Op Pustaka,2011
Zuhairini. Dra, dkk. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta,1991


[1] Yadianto, Kamus Umum Bahasa Indonesia.(Bandung:M2s,1996 cet.ke-1 hlm 88)
[2] Hasan Langgulung,1986
[3] Drs. Hasan Basri, M.Ag. Landasan Pendidikan (Bandung;2013 cet.ke1 hal.61-109)
[4]Drs.H. Hamdani Ihsan
[5] Drs. Hasan Bakri, M.Ag. Landasan Pendidikan.Bandung;2013 Cet.ke-1 hal.29)
[6]Ibid. filsafat Pendidikn (Jakarta:,2000,cet.ke-5.hlm.54)
[7] Drs. Hasan Bakri, M.Ag. Landasan Pendidikan.Bandung;2013 Cet.ke-1 hal.29)
[8] Ramayulis,Op,cit, hlm 53
[9] A. Chaerudji Abdul Chalik, Ulum Al-Qur’an(Jakarta:Diadit media,2007, cet.ke-1 hlm 15)
[10] Manna Khalil Al-Qattan, Ahli Bahasa Mudzakir AS,Studi ilmu-ilmu Al-Qur’an.(Jakarta:PT Pustaka Litera Antar Nusa,2000, cet.ke-5, hlm.16)
[11]A Chaerudin Abdul Khalik, Ulum Al-Qur’an(Jakarta:media,2007.cet.ke-1 hlm.15)

[13] (Nur Uhbiyati,1997:16)
13(al Syaibany,1979)
14(al Syaibany, 1979)

[16]Prof.Dr. Abd Rachman Assegaf, (PT RajaGravindo Persada Jakarta,2011.cet.ke-2 hlm.108)

[17] Prof.Dr. Abd. Rachman Assegaf.Filsafat Pendidikan Islam(Jakarta;2011 Cet.ke-2)
[18]Dra. Zuharini, dkk.Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta;1991 hal.131-134)
[19]Drs.Machnun Husein. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta;1996 Cet.ke-6)
[20]Drs. H. Abudin Nata, M.A. Filsafat Pendidikan Islam (Pamulang;1999 Cet.ke-2)

2 komentar: